Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2012

Aneka Ritual pada Malam 1Suro


Bulan suro terlebih lagi malam 1 Suro Bagi sebagian masyarakat indonesia; khususnya masyarakat suku Jawa memiliki aura tersendiri dalam pandangan masyarakat Jawa Aneka Ritual yang sering dijalankan seperti :
  • Memandikan Pusaka Pusaka yang dimiliki
  • Dilarang keras melaksanakan Pesta apalagi Pernikahan
  • Melaksanakan Tirakat,lek-lekan,
  • Kirab malam 1 suro
  • Kirab Tumuruning Mahesa Suro
  • Ritual Batara Kathong Ponorogo
  • Ritual Telaga Ngebel Ponorogo
  • dan Ritual lainnya

Rabu, 31 Oktober 2012

ISI dan ARTI Sumpah Pemuda


A.ISI

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

B.ARTI SUMPAH PEMUDA

Sudah saatnya kita semua terutama para Pemuda Indonesia untuk menderapkan langkah bersama, membuang segala jenis perbedaan yang ada. Bersatu membuat ikatan satu dan yang lainnya. dan ingatlah maju mundurnya suatu bangsa itu ditentukan oleh para Pemuda nya, dan ingat juga bahwa Pemuda adalah Motor penggerak Utama ke arah perubahan yang signifikan dalam segi tatanan Agama,sosial,politik dan dalam segala bidang lainnya dalam suatu Tatanan negara.
“Jangan hanya diam saja,sudah saatnya kita tuk berbuat kearah perubahan”Agar Indonesia Menjadi  kokoh dan dapat  bertahan di tengah krisis global yang mengancam Dunia.

Jumat, 07 September 2012

Alat Komunikasi Kuno


1.kentongan

kentongan digunakan untuk memanggil orang-orang untuk berkumpul(saat ini masih digunakan di desa-desa), biasanya untuk acara adat, hajat, atau sekedar acara bersih desa. kentongan juga masih digunakan untuk ronda malam.

                                                                           
2. Bedug 
    
bedug digunakan untuk acara keagamaan, di asia (kecuali jepang) bedug digunakan di masjid-masjid untuk panggilan kaum musim dalam menjalankan peribadatan (saat ini di kota-kota besar seperti jakarta bedug sudah jarang digunakan, diganti dengan pengeras suara moderen).
Di jepang bedug juga digunakan untuk aktivitas keagamaan, tapi tentu saja bukan hanya komunitas muslim yang menggunakan bedug disana,hampir semua masyarakat jepangmenggunakannya hingga kini.


3.lonceng

lonceng digunakan manyarakat eropa dan kaum nasrani (untuk penanda waktu di gereja-gereja) dan mayarakat asia khususnya china dan umat budha (untuk acara-acara peribadatan, biasanya terdapat di kuil-kuil dan tempat ibadah lainnya).
                                                                                                                                                                                                                                   
4.Daun Lontar  
                                                                                                                                                                       Pada zaman yang lebih maju, orang mulai menggunakan bahasa tulisan sebagai alat komunikasi. Kegiatan surat-menyurat di Indonesia telah dimulai sejak masa kerajaan Kutai, Tarumanegara, Pajajaran, Majapahit, Sriwijaya, dan Mataram. Walaupun pada masa itu kegiatan tersebut masih terbatas pada kegiatan surat-menyurat antar kerajaan. Mereka menggunakan kulit kayu serta kulit bambu sebagai bahan untuk menulis.

Akan tetapi, yang lazim dipakai untuk menulis surat pada tempo dulu lebih dominan daun lontar. Namun ada juga yang menggunakan bambu, tulang binatang, labu hutan, rotan, dan lempengan batu (dikenal dengan nama prasasti). Oleh karena itu, ahli sejarah sering menemukan peninggalan sejarah yang berupa prasasti dan catatan dalam daun lontar.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, prasasti merupakan piagam yang tertulis pada batu, tembaga, dan sebagainya. Prasasti merupakan sumber sejarah terpenting untuk mengungkap peristiwa masa lalu. Hal ini disebabkan karena prasasti adalah dokumen tertulis yang orisinil dari peninggalan masa lalu tersebut. Berdasarkan Matrical Eulogitic Inscription, Mc. Dannel, Sanskrit Dictionary, prasasti dapat berarti tulisan dalam bentuk puisi yang berupa pujian. Selain itu, prasasti juga berarti anugerah, karena prasasti dalam arti pujian itu didasarkan atas anugerah yang diberikan seorang raja kepada rakyatnya. Oleh karena itu, prasasti dalam arti anugerah itu, disebutkan berlakunya hak istimewa yang turun-menurun. Istilah untuk itu dalam Negara Kertagama disebut purwasarirareng prasatyalama tan rinaksan iwo, yang berarti hak-hak istimewa yang sejak dahulu dilindungi oleh prasasti kuno. 


5.Asap

Media komunikasi ini tergolong unik dan sangat populer digunakan oleh
bangsa Indian di Amerika. Asap dapat digunakan untuk mengirimkan informasi rahasia kepada teman maupun lawan. Dalam berkomunikasi menggunakan asap, tidak ada kode-kode yang baku sehingga tidak semua orang dapat membaca maksud dari kepulan asap yang dikirim. 




Rabu, 18 Juli 2012

ASAL USUL DESA BULU KEC SAMBIT KAB PONOROGO

pada waktu jaman dahulu ada seerong yang bernama mbah NURKALAM.beliau dan teman temanya yang babad hutan yang ada di daerah sambit kemudian dihutan tersebut banyak pohonnya bulu..
sangking banyaknya kemudian mbah Nurkalam bebrbuyi
"BESOK REJO REJONE JAMAN TAK JENENGNE DESA BULU"

Selasa, 17 Juli 2012

asal usul telaga ngebel Ponorogo


assalamualaikum wr. wb

Ngebel sendiri berasal dari bahasa Jawa, ngembel‘ atau berair. Karena, jaman dahulu, ada seorang Wara’i atau orang yang sakti ilmu kanuragan dan ilmu agamanya melewati suatu daerah di kawasan Ponorogo dan melihat fenomena tanah yang berair itu. Maka sang Wara’i pun berujar;
Ana sak wijining jaman, tlatah iki kasebut Ngembel_Suatu saat daerah ini bernama Ngembel”
Tapi karena lidah yang salah kaprah dalam waktu yang lama dan turun temurun, maka Ngembel pun berubah menjadi Ngebel. 

Dongeng tersebut adalah sebagai berikut.

Jaman dahulu kala, ada sepasang suami istri yang tinggal di suatu kampung yang melahirkan anak seekor ular naga. Naga itu diberi nama BARU KLINTING. Melihat keanehan wujud Baru Klinting ini, mereka tak berani tinggal di kampung tersebut karena takut menjadi bahan gunjingan tetangga.Mereka pun mengungsi ke puncak gunung untuk mengasingkan diri dan memohon pada dewa agar mengembalikan rupa putra mereka ke wujud manusia.

Doa itu pun didengar. Syarat yang harus dilakukan oleh Baru Klinting adalah melakukan pertapaan selama 300 tahun dengan cara melingkarkan tubuhnya di gunung Semeru. Sayang, panjang tubuhnya kurang sejengkal untuk bisa melingkari seluruh gunung. Maka, untuk menutupi kekurangan itu, ia menyambungkan/ menjulurkan lidahnya hingga menyentuh ujung ekornya.

Rupanya, syarat untuk menjadi manusia tak hanya itu. Dewa meminta sang Ayah agar memotong lidah Baru Klinting yang sedang bertapa tersebut. Baru Klinting yang bersemedi tak menolak toh demi kebaikannya agar menjadi manusia.

Saat waktu bertapa hampir selesai, ada kepala kampung yang akan menikahnya anaknya. Kepala kampung pun sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, terlebih lagi soal hidangan. Konon, mereka akan menggelar pesta pernikahan yang sangat mewah dan sangat besar. Untuk menutupi kekurangan bahan makanan, secara sukarela warga pun membantu berburu di hutan. Ada yang mencari buah-buahan, ranting/ kayu bakar hingga hewan buruan seperti rusa, kelinci, maupun ayam hutan.

Sudah beberapa lama warga berburu,namun tak mendapatkan hasil buruan apapun
Tanpa sengaja, ada segolongan warga yang istirahat karena lelah berburu mengayunkan parangnya pada pokok pohon tumbang. Namun, alangkah kagetnya mereka ternyata parang itu malah berlumuran darah. Dari pokok pohon tumbang itu mengucur darah segar. Bahkan, mereka baru sadar kalau yang mereka tebas tadi bukan pohon tumbang tetapi ular raksasa/ ular naga. Melihat hal ini, warga pun beramai-ramai mengambil dagingnya untuk dimasak dalam pesta pernikahan tersebut.

Hari pesta pernikahan anak kepala kampung adalah hari berakhirnya pertapaan Baru Klinting. Benar saja, naga itu berubah wujud menjadi anak kecil. Sayangnya, si anak mengalami kesusahan dalam berbicara karena lidanya dipotong sebagai syarat menjadi manusia. Tak hanya itu, tubuhnya penuh dengan borok yang membusuk lantaran saat bertapa tubunya disayat-sayat untuk diambil dagingnya oleh warga sebagai bahan pesta.

Anak itu kelaparan dan memohon agar diberi makanan. Namun, tak satu pun warga yang memedulikannya. Warga malah mengejek dan mengusir anak kecil itu. Melihat nasib anak itu, seorang wanita tua merasa kasihan dan membawanya pulang. Lalu si anak diberi makan dengan lauk berupa daging yang diterima dari pesta kepala kampung. Si anak pun makan dengan lahap tapi dia tak mau memakan daging itu.

“Bu, tadi saya pikir sudah tak ada lagi orang baik di kampung ini. Rupanya, masih ada orang seperti Anda. Bu tolong siapkan lesung (kayu tempat menumbuk padi) bila terjadi sesuatu ibu segeralah naik lesung tersebut” Begitu pesan Baru Klinting selesai makan. Si wanita tua itu pun menuruti ucapan Baru Klinting tanpa banyak pertanyaan kenapa, Lalu, Baru Klinting pun kembali ke tempat pesta.

“Wahai warga semua, lihatlah di tanganku. Aku memiliki sekerat daging. Jika kau mampu memenangkan sayembara yang kuadakan, maka ambillah daging ini. Namun, jika kalian tak mampu, maka berikanlah semua daging yang kalian masak padaku” ucap Baru Klinting.

Warga pun mencoba satu persatu tapi semuanya tak mampu mencabut sebatang lidi tersebut. Sayangnya, warga tetap tak mau mengembalikan daging yang telah mereka masak.

“Lihatlah ketamakan kalian wahai manusia. Lihatlah ketidak pedulian kalian pada sesama, pada manusia yang cacat sepertiku. Bahkan kalian tidak mau mengembalikan hakku! Ketahuilah, daging yang kalian masak itu adalah dagingku saat aku menjadi ular naga. Maka, kalian berhak mendapatkan balasan setimpal!” Baru Klinting pun segera mencabut lidi tersebut.

Keanehan pun terjadi. Dari lidi itu mengucur air, terus menerus hingga menenggelamkan kampung tersebut.

Genangan air itupun berubah menjadi telaga, Sedang orang tua yang memberi makan baru klinting selamat karena naik lesung. Bahkan sejak itu pula, Baru Klinting berubah lagi menjadi ular dengan melingkarkan tubuhnya di dasar telaga yang bentuknya menyempit di bagian bawah itu.Saat ini, telaga itu masuk daerah Ngebel sehingga terkenal dengan telaga Ngebel.

cerita ini merupakan sejarah telaga ngebel sebagai salah satu icon dan tujuan  wisata para wisatawan di kabupaten PONOROGO
semoga menjadi bermanfaat bagi yang membacanya dan semoga dijadikan ilmu pengetahuan ....

wasalamualaikum wr.wb

asal usul tanah jawa



 pada tahun 78 sesudah Masehi ada seorang utusan dari kerajaan Astina, namanya Aji Saka. Astina adalah nama lain dari Gujarat. Nama Astina juga masuk dalam cerita pewayangan yang beredar di masyarakat Jawa. Kemudian, Aji Saka di utus untuk menyelidiki apa yang ada dan terjadi pada kepulauan di Nusantara. Sesampai di pulau tersebut, ia mendarat di bagian timur pulau Jawa yang saat tiu masih bernama Nusa Kendang. Kemudian Aji Saka menaklukkan kerajaan Mendang dan mengusir sang raja yang bernama Dewata Cengkar. Tetapi kemudian Aji Saka dikalahkan oleh Daniswara, putra Dewata Cengkar. Karena kalah, Aji Saka kembali ke Astina. Tahun 125 M, Aji Saka kembali lagi bersama gelombang perpindahan orang-orang Budha dan pada saat itulah ia berhasil menaklukkan kerajaan Mendang. Setelah kemenangan itu Aji Saka memindahkan pusat kerajaan ke Purwodadi. 


Bersamaan dengan datangnya Aji Saka, dimulailah Babad Jawa dan perhitungan Tahun Jawa. Dari Babad-babad itu diketahui, setelah tahun 125 M pertumbuhan penduduk semakin cepat oleh perpindahan kaum Budha. Para pendatang ini kemudian menempat di pantai selatan pulau Jawa yang bernama Barung dan Tembini. Sebagaimana disebutkan di atas, pada tahun 444 M terjadi gempa bumi dahsyat yang kemudian memecah pulau Jawa. Pantai bagian selatan terbagi dua, yaitu Nusa Barung yang berada di dekat Puger Kulon dan Nusa Kambangan yang berada di dekat Cilacap. 


Sebagaimana disebutkan dalam buku Suyono, secara berturut-turut perpindahan penganut Budha ke pulau Jawa terjadi sebagai berikut:
1.     Tahun 157 M. Yang menetap di daerah Jepara.
2.     Tahun 163 M. Yang menetap di daerah Tegal dan Banyumas.
3.     Tahun 174 M. Yang menetap di daerah Tengger.
4.     Tahun 193 M. Yang menetap di daerah Kedu.
5.     Tahun 216 M. Yang menempati daerah Madiun.
6.     Tahun 252 M. Yang menempati daerah Yogyakarta.
7.     Tahun 272 M. Yang menempati daerah Kediri.
8.     Tahun 295 M. Yang menempati daerah Ngawi dan Bojonegoro.
9.     Tahun 312 M. Yang menempati daerah Kudus.
10.  Tahun 314 M. Yang menempati daerah Mojokerto.
11.  Tahun 424 M. Yang menempati daerah Surakarta. 


Lebih lanjut, pada tahun 450 M terjadi lagi perpindahan penduduk dari India yang mendiami tanah yang terletak antara sungai Cisadane dan Citarum, di Jawa Barat. Para pendatang itu menganut agama Whisnu. Setelah beberepa lama tinggal di tempat tersebut, kemudian mereka membentuk kerajaan sendiri dan memilih seorang raja sebagai pemimpinnya. Rajanya yang dipilij adalah Purnawarman. Ia dikenal sebagai raja yang gagah dan berani karena ambisinya untuk menaklukan kerajaan-kerajaan lain di tanah Sunda. Meskipun tidak semuanya berhasil dengan kemenangan, Purnawarman dikenal sebagai raja pertama yang memimpin wilayah cukup luas di pulau Jawa. 


Peralihan penduduk selanjutnya terjadi pada tahun 643 M yang dilakukan oleh Kusuma Citra, keturunan Jaya Baya. Pada masa Kusuma Citra inilah Nama Astina dirubah menjadi kerajaan Gujarat atau Kujrat. Saat Kusuma Citra menjadi raja, ada suatu ramalan bahwa kerajaannya akan musnah, karenanya ia berkeinginan kuat untuk memindahkan kerajaannya ke Pulau Jawa. Oleh adanya keinginan itu, ia mengirim sejumlah 5.000 penduduk yang beragama Budha dengan pemimpin putranya Awab. Penduduk yang dikirim oleh Kusuma Citra itu terdiri dari Jalma Tani, Jalma Undagi, Jalma Udang Dudukan, Jalma Pangiarik, dan Jalma Prajurit. Pendaratan pertama di bagian barat tidak berhasil, kemudian mengubah haluan ke bagian timur dan berhasil mendarat di sana. Awab sebagai pemimpin kemudian mendirikan kerajaan baru yang diberi nama Mendang Kamulan. Kemudian Awab menetapkan dirinya sebagai raja dengan gelar Brawijaya Sewala Cala. 


Sejarah tanah Jawa selanjutnya dapat ditemukan dalam Babad-babad yang menceritakan kelahiran kerajaan-kerajaan di Jawa. Namun demikian, sejarah tersebut penuh dengan mitos dan tampaknya kurang dapat diterima karena versinya yang amat beragam. Terlebih ada motif tertentu dari seroang raja memerinth seroang Mpu atau pujangga untuk menyusun silsilahnya sampai kepada nabi Adam yang dimaksudkan untuk semakin mentahbiskan dirinya sebagai wakil Tuhan di bumi. Penegasan silsilah itu dimaksudkan untuk semakin memperteguh kewibawaannya di mata khalayak rakyat. Cerita itu sulit diterima kebenarannya karena tidak diperkuat dengan bukti terjadinya peristiwa namun demikianlah adanya saat itu. 

sejarah Jawa dimulai dari kedatangan Aji Saka tahun 78 atau 125 M. Kemudian, dalam buku Etika Jawa, Franz Magnis menyebutkan asal-usul penduduk Jawa berasal dari perpindahan penduduk dari Melayu yang berasal dari Cina Selatan yang dimulai sejak tahun 3.000 SM

Kamis, 31 Mei 2012

sejarah dan berdirinya kota ponorogo


Awal mula berdirinya Kadipaten Ponorogo dimulai ketika Raden Katong sampai diwilayah Wengker , kemudian memilih tempat yang memenuhi syarat untuk pemukiman yaitu di dusun plampitan Kelurahan Setono Kec.Jenangan.

Siapakah Bethoro Katong ? dari catatan sejarah Ki Padmosusastro generasi 126 menyebutkan Bathoro Katong dimasa kecilnya bernama Raden Joko Piturun atau
disebut juga Raden Harak Kali. Beliau adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya V dari garwo pangrambe ( selir yang tinggi kedudukannya ) 


Bathoro Katong adalah adik lain ibu dengan Raden Patah Setelah menjadi Adipati di Ponorogo bergelar Adipati Bethoro Katong.


Kebesaran Wengker pada jaman Mojopahit ditandai dengan adanya prasasti berupa sepasang batu gilang yang terdapat didepan gapura kelima di kompleks makam Batoro Katong dimana pada batu gilang tersebut tertulis candrasengkala memet berupa gambar manusia, pohon, burung ( Garuda ) dan gajah yang melambangkan angka 1.418 Saka atau tahun 1.496 M.


 asal-usul nama Ponorogo bermula dari kesepakatan dalam musyawarah bersama Raden Bathoro Katong, Kyai Mirah, Selo Aji dan Joyodipo pada hari Jum'at saat bulan purnama, bertempat di tanah lapang dekat sebuah gumuk (wilayah katongan sekarang). Didalam musyawarah tersebut di sepakati bahwa kota yang akan didirikan dinamakan “Pramana Raga”yang akhirnya lama-kelamaan berubah menjadi Ponorogo.

Kadipaten Ponorogo berdiri pada tanggal 11 Agustus 1496 Masehi, tanggal inilah yang kemudian di tetapkan sebagai hari jadi kota Ponorogo. Penetapan tanggal ini merupakan kajian mendalam atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala di daerah Ponorogo dan sekitarnya, juga mengacu pada buku Hand book of Oriental History, sehingga dapat ditemukan hari wisuda Bathoro Katong sebagai Adipati Kadipaten Ponorogo.

melalui seminar hari jadi Kab.Ponorogo yang diselenggarakan pada tgl.30 April 1996 maka penetapan tgl.11 Agustus sebagai Hari Jadi Kab.Ponorogo telah mendapat persetujuan DPRD Kab.Ponorogo .

Jumat, 25 Mei 2012

air terjun pletuk ponorogo

Kata Pletuk itu merupakan kata kiasan yang penuh misteri dan sangat dalam maknanya bagi hidup dan kehidupan, dimana kata Pletuk dapat dikonotasikan sebagai petuah luhur. 
Berjarak sekitar 30 Km ke tenggara dari pusat kota Ponorogo atau tepatnya sebelah selatan dari Kecamatan Pulung.  Untuk menuju ke lokasi air terjun ini dapat menggunakan kendaraan pribadi atau umum.  Kondisi jalan ke lokasi sudah beraspal mulus akan tetapi berkelok kelok dan naik turun.  Di sepanjang perjalanan akan banyak di temui hutan jati.

Jika berangkat dari kota Ponoroho (alun-alun) dengan mengambil arah ke kawasan Jeruksing.  Dari Jeruksing (bunderan lampu lalu lintas) ini ambil ke arah timurmelewati kawasan Tajug yang dipenuhi hutan tanaman kayu putih hingga tiba di perempatan jalan raya Jeruksing - Pulung .  Bila lurus akan menuju ke Kecamatan Pudak, arah kiri ke Kecamatan Pulung dan ke arah kanan ke Kecamatan Sooko.

Selanjutnya ambil arah ke kanan, melewati pasar tradisional Kecamatan Pulung.  Setelah menempuh kurang lebih 20 menit akan tiba di kecamatan Sooko dengan terlebih dahulu melewati hutan jati di kiri kanan jalan Pulung - Sooko.  Dan akhirnya dari kecamatan ini selanjutnya ikuti petunjuk arah menuju lokasi Air Terjun Pletuk berada.

Bagi yang menggunakan kendaraan umum, dari Terminal Seloaji, Ponorogo naik angkutan umum jurusan Sooko dengan ongkos sekitar Rp 5000.  Turun di Pasar Sooko.  Selanjutnya perjalanan berganti naik ojek hingga tiba di lokasi air terjun berada. Ojek ini banyak tersedia di sekitar pasar Sooko. 

letak air terjun pletuk di desa jurug kecamatan sooko kabupaten ponorogo
di daerah ini udaranya sangat sejuk.apabila telah merasakan sejuknya air terjun ini..
insaalah anda bakal ketagihan.dengan panorama pegunungan yang indah.
selamat mencoba

Rabu, 16 Mei 2012

penamaan gunung salak berasal dari mana?

Gunung Salak selama ini memang dikenal angker, baik oleh pendaki maupun bagi kalangan penerbang. Tak sedikit para pendaki yang tersesat, hilang dan meninggal di Gunung Salak. Begitu juga dengan dunia penerbangan, setidaknya tujuh pesawat jatuh di lereng gunung yang memiliki dua puncak ini.

Meski sering diperbincangkan, asal muasal penamaan Gunung Salak masih simpang siur hingga saat ini. Salah satu versi menyebut Gunung Salak tidak memiliki hubungan dengan buah salak. Gunung Salak dalam versi ini diambil dari bahasa sansekerta 'Salaka' yang berarti perak. Maka Gunung Salak bermakna 'Gunung Perak'.

Versi lain menyebut di lereng gunung tersebut pernah berdiri sebuah kerajaan bernama Salakanagara pada abad IV dan V Masehi. Nama Gunung Salak pun diduga berasal dari kata depan kerajaan tersebut.

Menurut sumber sejarah, kerajaan Salakanagara dipimpin oleh seorang raja dengan gelar Raja Dewawarman I-VIII. Terungkapnya kerajaan Salakanagara bermula dari penemuan tulisan Raja Cirebon yang berkuasa tahun 1617 Wangsakerta, yang ditemukan pada abad ke-19 Masehi. Dari sinilah kemudian diketahui, jika kerajaan Hindu pertama di Pasundan bukan Tarumanagara, tapi Salakanagara. Namun versi ini pun belum bisa dibuktikan kebenarannya.

Versi lain dan yang beredar di warga di lereng gunung tersebut adalah adanya buah salak raksasa. Konon, penamaan Gunung Salak berasal dari penemuan buah salak besar.

"Kata orang tua dulu begitu, katanya ada salak besar di sana, makanya dikasih nama Gunung Salak," ujar warga Cidahu, Sukabumi, Husni kepada merdeka.com.

Belum jelas soal penamaan dan hubungan gunung yang sering terjadi kecelakaan pesawat terbang ini. Namun di gunung tersebut terdapat banyak sekali petilasan atau tempat bersemedi para raja dan pengikutnya.

Petilasan suci itu tersebar di berbagai titik. Seperti petilasan milik raja Pajajaran, Prabu Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi di kaki Gunung Salak di daerah Bogor dengan total mencapai puluhan lokasi. 

misteri gunung salak dan prabu siliwangi


Saat penelusuran, Jumat (11/5), sebuah pura juga dibangun di lereng Gunung Salak. Pura Parahyangan Agung Jagatkarta Tamansari Gunung Salak ini konon dibangun sebagai penghormatan terhadap Prabu Siliwangi dan para prajuritnya yang menghilang di Gunung Salak dan menjelma menjadi macan.
Masyarakat sekitar juga sering menemukan hal-hal gaib di kawasan Gunung Salak ini yang berhubungan dengan Prabu Siliwangi. Sebelum membangun pura ini pada 1995, umat Hindu terlebih dahulu membangun candi dengan patung macan berwarna putih dan hitam. Di lokasi inilah, diyakini Prabu Siliwangi menghilang dan berubah wujud menjadi macan.
Kenapa memilih di lokasi itu dibangun pura? Konon, pada tahun 1981 silam, tempat tersebut dikenal sebagai Batu Menyan. Batu menyan ini setiap harinya mengeluarkan asap. Konon masyarakat sekitar setiap hari melihat cahaya putih, dan sinar terang dari angkasa, kemudian turun ke batu.
Dengan mitos tersebut, tak heran. gunung salak terkenal angker. Banyak pendaki yang hilang lantaran tersesat. Selama ini, tak sedikit pendaki Gunung Salak mengaku ada yang mendengar gamelan atau pun melihat penampakan-penampakan mahluk halus saat mendaki Gunung Salak. Para pendaki pun disarankan untuk tidak mengucapkan kata-kata kotor atau kasar selama perjalanan. Tujuannya untuk menghindari gangguan ‘lelembut’ penunggu Gunung Salak.
Tak sedikit pula terjadi kecelakaan pesawat yang jatuh di Gunung Salak. Kecelakaan ini pun disangkut-pautkan hal-hal gaib, termasuk kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100.

Makam Keramat Syekh Hasan dan Tragedi Sukhoi


Salah satu mitos di gunung salak, menyangkut makam keramat Raden KH Syekh Mohammad Hasan, yang terletak di Puncak Salak I, atau sering disebut Puncak Manik.
Syekh Mohammad Hasan diyakini sebagai salah satu ulama besar yang menyebarkan Islam di Jawa Barat, seputar Bogor, Garut, hingga Cirebon.
Makam Syekh Hasan dianggap keramat, setara dengan makam Mbah Priok di Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Alathas atau makam Karomah Empang Bogor, tak jauh dari Kebun Raya Bogor.
Dua orang pemuka agama Islam di Cijeruk, Bogor, KH Marsa Abdullah dan Habib Mukhsin Barakbah menyampaikan hal itu kepada Tribun Jakarta, Sabtu (12/5/2012).
Mereka ditemui di kediaman Marsa di Kampung Pasir Pogor, Cipelang, berjarak kurang lebih 500 meter di selarang lapangan helikopter darurat milik SMPN 1 Cijeruk, yang menjadi posko utama evakuasi korban pesawat Sukhoi Super Jet 100 yang jatuh pada Rabu (9/5/2012).
Menurut pandangan kebatinan Marsa, peristiwa jatuhnya pesawat buatan Rusia berpenumpang 47 orang, ada kaitannya dengan legenda Sunda, suku asli Bogor dan Jawa Barat pada umumnya.
Ia coba mengingat-ingat kecelakaan jatuhnya Sukhoi di kaki Gunung Salak, dan fakta kecelakaan-kecelakaan sebelumnya. Marsa lalu mengaitkan musibah ini dengan makhluk gaib penunggu Gunung Salak.
"Jangan anggap remeh, walaupun ini dongeng. Anda percaya atau tidak, terserah. Seperti kalau mau masuk rumah orang, kan ada isyaratnya. Harus ada sopan-santun, ada salam. Bagi orang Islam misalnya, mengucapkan assalamualikum," tutur Marsa.
Sabtu lalu, KH Marsa menggelar acara ritual masayarakt setempat dengan menyediakan tumpeng di Puncak Manik. , untuk syarat berdoa meminta kepada Tuhan agar cuaca cerah guna melancarkan evakuasi.
KH Marsa pun bercerita  tentang kekeramatan makam Syekh Mohammad Hasan di puncak Gunung Manik atau puncak Gunung Salak I. Ia menuturkan, tidak boleh menunjukkan kesombongan atau pamer kekuatan di gunung tersebut.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management